Kapal Perang Amerika Dicegah Dekati Perairan Iran.
Iran “Jangan Sampai Sentuh Garis Kami”
“Barang siapa menabur angin, akan menuai badai,” Jenderal Reza Talaei Nik

Harian babel.com, Teheran | Ketegangan meledak tak terkendali dikawasan yang menyokong aliran energi dunia, Iran membentangkan garis merah maritim yang tajam, sementara Amerika Serikat mengerahkan armada militernya dengan penuh tekanan.
Bukan hanya dua negara yang berseteru, tapi seluruh kawasan Timur Tengah terjebak dalam jurang bahaya yang siap memakan nyawa dan merusak stabilitas global, dikutip dari berbagai sumber berita.
IRAN “Jangan Sampai Menyentuh Garis Kami”
Angkatan Laut Iran, bersama Korps garda revolution Islam (IRGC), telah mengerahkan ribuan unit kapal cepat serang dan kapal korvet siluman kelas Shahid Soleimani ke Selat Hormuz, Teluk Persia dan Laut Oman.
Strategi “armada nyamuk” iran bukan omong kosong, kapal-kapal kecil berkecepatan tinggi itu dilengkapi ranjau laut, torpedo dan rudal anti kapal jarak jauh.
“Setiap langkah agresif akan dibalas dengan respons yang lebih menyakitkan,” tegas jenderal Reza Talaei Nik yang sekaligus sebagai juru bicara Kementerian Pertahanan Iran.
AS “Armada Kami Sudah Siap, Tapi Harapkan Perjanjian”
Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln beserta tiga kapal perusak dengan rudal Tomahawk telah tiba di kawasan, bahkan ada armada lain yang sedang berlayar menuju Iran, tidak hanya itu, Jet tempur F-15 dan F-35 juga ditempatkan di pangkalan militer sekitarnya.
“Meskipun kami siap bertindak, saya harap mereka mau mencapai kesepakatan,” ujar Trump.
Namun Iran membalas pernyataan Trump dengan menarik dua garis merah yang begitu tajam.
Milisi Sekutu Iran Siap Berperang.
Ketegangan semakin memanas dengan dukungan tak terbendung dari milisi pro-Iran.
Hizbullah Lebanon menyatakan tidak akan netral jika Iran diserang, sementara Houthi Yaman mengancam akan menyerang setiap kapal AS yang melintas di Laut Merah bahkan Kataib Hizbullah di Irak memperingatkan serangan terhadap Iran akan memicu “perang total” di kawasan.
“Satu ancaman terhadap pemimpin Iran adalah ancaman terhadap kami semua,” tegas pemimpin Hizbullah, Naim Qassem.
Dunia Was-was, Kawasan Ini Jantung Energi Global.
Selat Hormuz menjadi titik sentral, karena mengontrol 20% ekspor minyak dunia.
Qatar bahkan baru saja menutup kesepakatan pertahanan senilai US 5,1 Miliar dollar dalam pameran DIMDEX 2026 untuk memperkuat keamanan maritim, ini menjadi bukti bahwa negara-negara kawasan tak ingin terjebak dalam kekacauan.
Analis keamanan khawatir, satu kesalahan perhitungan saja bisa mencetuskan konflik skala besar yang akan mengganggu pasokan energi global dan merusak ekonomi dunia.
(Tim Redaksi HB)

