
Harian babel.com, Jakarta | Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian baru saja membuka kotak pandora APBD yang isinya bukan emas, bukan pula sebuah prestasi, tapi anggaran makan dan minum daerah yang bisa tembus Rp. 1 miliar Perhari. Sehari bukan setahun, bukan pas lebaran. Sehari biasa, tanpa pesta rakyat, tanpa hajatan nasional.
Bayangkan, dengan Rp. 1 miliar, berapa warung kecil bisa hidup, Berapa UMKM bisa bernafas, tapi di beberapa daerah, uang itu habis hanya untuk rapat, snack, makan siang, makan malam dan mungkin kopi dan yang terakhir mungkin karena rapatnya kebanyakan basa-basi.
Mendagri menyebutnya tanpa basa-basi, keterlaluan. Dan benar saja, APBD yang seharusnya jadi alat pelayanan publik malah berubah seperti buku menu restoran mahal, lengkap dengan hidangan berulang. Rapat yang diulang serta perjalanan dinas yang entah kenapa selalu terasa “kurang” kalau cuma tiga kali.
Lucunya, di era Zoom meeting, rapat masih hobi digelar di hotel. Padahal rakyat sudah terbiasa rapat hidup dengan signal pas-pasan dan kuota seadanya. Apakah ini yang dinamakan rakyat hemat, para pejabat daerah malah kenyang.
Lebih ironis nya lagi, 90% daerah di Indonesia masih lemah secara fiskal. Dari ratusan daerah, hanya beberapa daerah yang benar-benar bisa mandiri. Sisanya masih bergantung pada tranfer pusat, seperti anak kos menunggu kiriman orang tuanya. Tapi anehnya, saat uang pusat datang yang pertama dipikirkan justru belanja bukan cara menambah pendapatan.
PAD rendah katanya karena dunia swasta tidak hidup. Tapi dunia swasta sulit hidup karena perizinan berliku, transparansi setipis tisu dan kebijakan pun sering berubah seperti menu prasmanan. Mau investor datang, kalau pintu masuknya ribet. Tapi pintu jamuan selalu terbuka lebar.
Mendagri sudah mengingatkan, berfikirlah soal mencari pendapatan, bukan cuma membagi belanja.
Kreativitas kepala daerah diuji bukan dari banyaknya rapat, tapi dari seberapa berani memangkas yang mubazir dan membuka ruang usaha yang sehat.
Sebab APBD itu bukan buku rekening pribadi, bukan pula daftar cathering langganan. Ia amanah, karena setiap rupiah yang dihabiskan untuk makan minum berlebihan bisa jadi sebuah jalan rusak yang tak diperbaiki, Sekolah yang bocor, atau puskesmas yang kekurangan alat.
Negara ini tak kekurangan anggaran, tetapi hanya sering kelebihan nafsu belanja. Dan semoga setelah ini yang kenyang bukan hanya meja rapat tapi juga harapan rakyat.

