28 Februari 2026
Edi Nasapta
Edi Nasapta, Wakil ketua DPRD Provinsi Babel (Sumber:Berita lain)

Harian Babel.com – BANGKA BELITUNG | Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Edi Nasapta, menyoroti keras berulangnya gangguan distribusi bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah Bangka Belitung. Namun berbeda dari kritik yang selama ini hanya menyinggung soal kelangkaan di SPBU, Edi menekankan bahwa problem utama bukan pada “cuaca ekstrem”, melainkan buruknya manajemen distribusi Pertamina sejak tahap perencanaan.

Menurut Edi, setiap tahun masalah yang sama terulang saat gelombang laut meningkat. Kondisi geografis Bangka Belitung yang merupakan wilayah kepulauan sudah diketahui sejak awal, sehingga seharusnya ada langkah mitigasi sejak jauh hari.

“Kalau Pertamina tahu gelombang tinggi terjadi menjelang akhir tahun, kenapa pengiriman tidak dipercepat? Kenapa buffer stok tidak ditambah? Itu bukan lagi masalah teknis, tapi kelalaian perencanaan,” tegasnya.

Berbeda dari pernyataan pejabat daerah lain, Edi secara terbuka meminta Pertamina pusat dan regional Palembang memberi penjelasan resmi mengenai Jumlah stok BBM sesungguhnya, pola distribusi ke Babel, rencana darurat jika cuaca ekstrem kembali menghambat pengiriman.

Ia menilai, selama ini alasan “gelombang tinggi” justru menjadi tameng berulang, padahal masalah logistik BBM di Babel sudah terjadi bertahun-tahun tanpa ada perbaikan sistemik.

“Kalau memang kurang armada, kurang storage, atau anggaran distribusi tidak cukup, sampaikan terus terang. Jangan membiarkan masyarakat menanggung dampaknya,” ujarnya.

Dalam pernyataan sikapnya, Edi juga mengkritik anggota DPR RI asal Bangka Belitung yang dinilainya belum bersuara lantang mendorong penyelesaian persoalan ini di tingkat pusat.

Ia menegaskan, karena distribusi BBM berada dalam kewenangan pemerintah pusat, maka anggota DPR RI dapil Babel wajib ikut menekan Pertamina dan Kementerian terkait, termasuk dalam upaya penambahan anggaran logistik dan investasi distribusi energi di Babel.

“Kalau memang persoalannya biaya distribusi laut yang mahal, seharusnya itu bisa diperjuangkan di pusat. Jangan sampai masyarakat Babel hanya jadi korban tanpa ada pembelaan,” katanya.

Edi juga menilai selama ini masyarakat terus dirugikan dengan antrean panjang, kelangkaan, dan lonjakan harga akibat distribusi BBM yang tidak stabil. Karena itu, ia mendorong Pertamina untuk menambah kapasitas penyimpanan BBM di Babel,menghadirkan armada kapal tambahan, menyiapkan stok cadangan saat cuaca ekstrem, memperbarui sistem pemantauan distribusi secara real time.

“Dampak dari distribusi yang buruk bukan hanya di SPBU. Nelayan tidak bisa melaut, usaha kecil terhenti, dan harga barang kebutuhan naik,” tegasnya.

Melalui pernyataan itu, Edi menegaskan bahwa masyarakat Babel tidak pantas terus-menerus menerima pelayanan distribusi energi yang buruk, sementara Pertamina tidak pernah memberikan solusi struktural.

“Warga Babel tidak pantas menerima pelayanan seperti ini. Harus ada langkah cepat, jelas, dan nyata, bukan alasan yang sama setiap tahun,” tutupnya.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *