28 Februari 2026

Langkah Mengejutkan Serta Guncangan Hebat 2026, saat “Benteng” NATO Retak di Greenland.

3 Negara NATO
Saat Putin tawarkan pelukan hangat saat NATO di cekik Trump.

Harian babel.com, Kremlin | Bayangkan sebuah papan catur raksasa dimana kutub utara yang beku menjadi sengketa.

Disatu sisi, Donald Trump mengguncang fondasi Barat dengan ambisi “pembelian” Greenland yang tak masuk akal. Disisi lain, Vladimir Putin berdiri di aula emas Kremlin, tersenyum tenang, sambil mengulurkan tangan yang bisa menghancurkan aliansi trans atlantik selamanya.

Kronologi dari peristiwa yang mengubah sejarah dunia pada Januari 2026.

Pengkhianatan di Arktik, dunia terperangah ketika ambisi lama Amerika Serikat berubah menjadi agresi ekonomi.

Donald Trump kembali ke panggung kekuasaan dan memberikan ultimatum “Greenland harus menjadi milik AS atau eropa akan membayar tarif dagang yang menghancurkan.”

Eropa yang selama ini mengandalkan “payung keamanan” Amerika tiba-tiba merasa ditusuk dari belakang serta Denmark meradang dan menyebutnya sebagai penghinaan terhadap kedaulatan.

Pasukan Eropa mulai bergeser ke Nuuk bukan untuk melawan musuh timur, melainkan untuk menjaga mereka dari “sekutu” mereka sendiri. Di titik inilah, NATO tidak lagi bicara tentang pertahanan bersama, melainkan tentang perpecahan internal.

Pidato “Madu” dari kremlin, saat amarah Eropa terhadap Washington memuncak, Vladimir Putin melangkah maju dalam upacara penyerahan surat kepercayaan 34 Duta besar di Istana Kremlin, Putin tidak bicara soal rual atau perang, suaranya tenang namun pesannya adalah ledakan diplomatik, pada Kamis (15/1/2026).

“Rusia siap memulihkan hubungan ke tingkat yang diperlukan,” ucap Putin dengan nada yang sangat bersahabat.

Putin juga berbicara soal “akar sejarah yang dalam dan kerjasama tanpa kecuali.”

Ini buka soal pidato, ini adalah operasi psikologis tingkat tinggi, Putin sedang menawarkan “pelarian” bagi Eropa yang sedang tercekik “mengapa kalian menderita dibawah ancaman tarif dan arogansi Amerika, padahal Rusia siap menjadi mitra yang saling menghormati”.

Perangkap yang sempurna

Narasi Putin adalah racun yang dibalut madu bagi para pemimpin di Berlin, Paris, dan Roma, di saat mereka dipaksa memilih antara kehilangan Greenland atau kehancuran ekonomi akibat tarif AS, Putin menawarkan jalan ketiga, yaitu “kembali ke timur.”

Ekonomi

Rusia menawarkan energi murah saat Eropa terancam inflasi akibat perang tarif.

Kedaulatan

Putin memposisikan diri sebagai pembela “tatanan dunia multipolar” dimana tidak ada negara (termasuk AS) yang boleh mendikte negara lain.

Keamanan

Dengan menarik Eropa kembali kelingkaran pengaruhnya, Putin secara efektif mematikan fungsi NATO tanpa perlu meletuskan satu peluru pun.

Ini fajar baru atau senja bagi dunia Barat.

Januari 2026 akan di ingat sebagai momen ketika kutub utara yang membeku justru membakar tatanan dunia lama, jika Eropa menerima uluran tangan Putin sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan Trump atas Greenland, maka kita sedang menyaksikan runtuhnya Aliansi Barat yang telah bertahan sejak Perang Dunia ke II.

Dunia kini menahan nafas, apakah Eropa akan bertahan dalam pelukan NATO yang mulai “beracun,” ataukah mereka berpaling ke arah Kremlin demi kelangsungan hidup ekomoninya?

 

(Tim Redaksi HB)

 

 

 

 

 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *