Harian babel.com | ACT 1: JEBAKAN (Bandara Soekarno-Hatta)
06 September, 21.55 WIB (Boarding)
Munir melangkah masuk ke pesawat. Ia memegang tiket Ekonomi (Kursi 40G). Tiba-tiba, skenario dimulai.
Pollycarpus (Pilot Garuda yang berstatus penumpang) menghampiri.
“Pak Munir, silakan pakai kursi saya di Business Class (3K). Biar Bapak bisa istirahat.”
Munir, yang lelah namun sopan, menerima tawaran itu. Pertukaran kursi ini adalah kunci pembuka maut.
22.05 WIB (Take Off)
Pesawat lepas landas menuju Singapura. Di kelas bisnis, Munir disuguhi welcome drink.
Dugaan terkuat: Jus jeruk atau mie goreng yang disajikan khusus untuknya telah dicampur bubuk Arsenik dengan dosis mematikan (sekitar 460-465 mg, jauh di atas ambang batas toleransi tubuh manusia).
ACT 2: REAKSI (Transit Bandara Changi, Singapura)
07 September, 00.40 Waktu Singapura (Transit)
Pesawat mendarat di Changi. Munir turun ke ruang tunggu. Racun itu mulai bekerja dalam diam, menggerogoti lambung dan sistem sarafnya. Ia terlihat gelisah, namun belum menyadari nyawanya sedang dihitung mundur.
01.53 Waktu Singapura (Depart to Amsterdam)
Penerbangan dilanjutkan. Munir kembali ke kursi aslinya di Ekonomi (40G).
Baru saja pesawat mencapai ketinggian jelajah, “bom waktu” di tubuhnya meledak.
ACT 3: AGONY (Di Atas Samudra Hindia)
02.00 – 04.00 (Fase Kritis)
* Menit ke-0: Munir mulai merasakan sakit perut yang tak tertahankan. Ini bukan sakit maag biasa. Rasanya seperti organ dalamnya terbakar.
* Menit ke-15: Ia bolak-balik ke toilet. Muntah hebat. Diare parah. Cairan tubuhnya terkuras drastis.
* Menit ke-30: Munir sudah lemas tak berdaya di dekat toilet. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membanjiri tubuhnya.
04.15 (Panggilan Darurat)
Puguh Wirawan (Purser/Awak Kabin) menyadari kondisi kritis ini. Ia mengumumkan panggilan darurat mencari dokter di antara penumpang.
Seorang dokter bernama dr. Tarmizi Hakim merespons.
04.20 (Pemeriksaan Medis)
Dr. Tarmizi memeriksa Munir.
* Kondisi: Nadi lemah, muntah terus menerus. Munir merintih kesakitan.
* Diagnosa Awal: Diduga Muntaber atau Maag akut. Tidak ada yang menduga keracunan arsenik.
* Tindakan: Dr. Tarmizi memberikan obat Primperan (anti mual) dan Diazepam (penenang) dari kotak obat darurat pesawat. Tujuannya agar Munir bisa beristirahat.
05.00 (Perpindahan Terakhir)
Karena kursi ekonomi terlalu sempit, Munir dipindahkan ke kursi 40G (barisan depan ekonomi) agar bisa meluruskan kaki dan tidur di lantai beralaskan selimut. Ia tertidur karena efek obat penenang, namun racun itu terus menghancurkan jantungnya.
ACT 4: SILENCE (Langit Eropa)
08.10 Waktu Pesawat (Kira-kira 2 jam sebelum mendarat di Amsterdam)
Suasana kabin hening. Sebagian besar penumpang tidur.
Dr. Tarmizi kembali mengecek kondisi pasiennya. Ia mengguncang tubuh Munir pelan.
Tidak ada respon.
Ia meraba nadi di leher. Nihil, ia memeriksa nafas. Hening.
Ia membuka kelopak mata Munir. Pupil melebar, tak bereaksi pada cahaya.
Mulut Munir sedikit mengeluarkan air liur (tanda khas keracunan yang melumpuhkan otot).
08.12 (Vonis Kematian)
Dr. Tarmizi menatap awak kabin dan mencatat waktu kematian.
“He is gone.”
Di ketinggian 40.000 kaki, di atas langit Rumania, suara paling lantang di Indonesia itu resmi dibungkam selamanya.
“Tubuhnya mati, tapi kebenarannya menolak untuk dikubur. Siapa yang memerintahkan Pollycarpus?”
Subject: Munir Said Thalib
Lokasi: Pesawat Garuda Indonesia (Jakarta – Singapore – Amsterdam)
Senjata: Arsenik (As2O3)
Waktu: 6 – 7 September 2004
catatan : Narasi ini disusun “menit-per-menit” berdasarkan rekonstruksi fakta persidangan dan kesaksian di pesawat.
koleksi kutipan (quotes) Munir Said Thalib yang paling tajam, dingin, dan menakutkan bagi mereka yang duduk di kursi kekuasaan dengan tangan kotor


