28 Februari 2026

“Siapa yang memegang kamera sering lebih berbahaya daripada siapa yang memegang mikrofon”

Foto : Pembangkit Nuklir "Vogtle" milik Amerika di Georgia, yang berhasil di ambil satelit resolusi tinggi milik Iran "Khayyam".
Foto : Pembangkit Nuklir “Vogtle” milik Amerika di Georgia, yang berhasil di ambil satelit resolusi tinggi milik Iran “Khayyam”.

Harian babel.com, Teheran | Iran baru saja mempublikasikan citra perdana dari satelit beresolusi tinggi “Khayyam”, hasil rekayasa para insinyur mereka sendiri yang diiluncurkan dengan roket Soyuz pada 2022 lalu, satelit itu kini mengirimkan foto yang bikin banyak orang berhenti mengunyah roti, bukan foto kota teheran, bukan gurun pasir ditanah persia, melainkan pembangkit nuklir “Vogtle” di georgia, Amerika Serikat. Ini Sebuah pilihan yang yang terlalu tepat untuk disebut sebuah kebetulan.

Sebagian orang masih melihat ibni seperti berita biasa, seolag Iran hanya ingin pamer kamera baru. Padahal, dalam bahasa politik global, ini setara dengan seorang preman pasar yang sudah lama di sikut-sikut, lalu suatu hari datang sambil memperlihatkan catatan berisi daftar siapa yang pernah ngutangi dia masalah. Tak perlu berteriak, tinggal menunjukkan saja buku kecil itu, dan semua orang akan paham maksudnya.

Setelah fasilitar nuklir Iran dihajar puluhan Tomhawk oleh AS, publikasi foto ini seoalah Iran berkata “Kalau mau main begitu, sekarang kami juga punya mata dari langit dan kami tahu anda menyimpan apa saja di pojok lapangan”.

Ini bukan ancaman eksplisit, tetapi sebuah sinyal yang didalam dunia inteligen jauh lebih menohok daripada pidato marah dua menit.

Jika dibaca lebih teliti, ada beberpa pertanyaan retoris yang pantas diajukan!

Pertama, bagaimana mungkin negara yang belasan tahun ditekan sanksi justru berhasil mengembangkan teknologi pengintai dengan presisi tinggi?

Kedua, kenapa negara yang paling alergi diawasi selalu menganggap wajar ketika justeru merekalah yang memegang kamera?

Ketiga, sejak kapan istilah “Keamanan global”! berarti hanya satu pihak yang boleh memegang pentungan?

Keempat, jika semua negara sama-sama ingin sebuah stabilitas, mengapa justru ada yang panik ketika pihak lain punya kemampuan yang setara?

Penampakan Satelit pengintai Khayyam saat diluncurkan di Russia menggunakan Roket Soyuz dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan.
Penampakan Satelit pengintai Khayyam saat diluncurkan di Russia menggunakan Roket Soyuz dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan Selasa (9/8).

Untuk kemudahan membayangkan dinamika ini, bayangkan arena parkiran mall pada malam minggu.

Ada satu kelompok yang merasa paling berhak mengatur siapa saja yang boleh parkir dan parkirnya dimana, dengan membawa pentungan, bersiul paling keras dan suka menyita helm oarng lain yang dianggap “melanggar aturan yang mereka buat menurut versi mereka sendiri”.

Lalu suatu hari, muncul kelompok lain yang diam-diam memasang kamera kecil diujung parkiran, ketika gambar dari kamera itu pertama kali dipublikasikan, semua orang tahu ‘aturan main telah berubah’.

Humor getir tapi akrab. Kita indonesia sudah terbiasa melihat premanisme terselubung, baik di level Rukun tetangga (RT) yang di aplikasikan ride healing, atau bahkan dipanggung politik nasional.

Dunia internasional tidak jauh berbeda, hanya saja para “premannya” memakai jas diplomatik dan senyum basi, sementara alatnya bukan balok kayu, tetapi satelit orbit rendah.

Apapun sudut pandangnya, satu fakta  tidak bisa ditolak “Iran sedang menunjukkan bahwa mereka bukan lagi figur yang bisa dipinggirkan.

Ketika sebuah negara mampu memotret fasilitas sensitif musuhnya dari angkasa, dunia sudah paham “bahwa kartu yang Iran pegang saat ini bukan kartu receh”.

 

(Tim Redaksi HB/Massayik)

 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *