
Harian babel.com, Kediri | Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mencapai kesepakatan islah setelah sebulan bersengketa kekuasaan keduanya sepakat menggelar muktamar bersama pada 2026 untuk mengakhiri perbedaan pandangan dan menyelesaikan dinamika internal jam’iyah.
Perpecahan internal di tubuh NU mencuat setelah beredarnya risalah rapat harian Syuriyah PBNU yang digelar pada 20 November dan dihadiri 37 dari 53 pengurus harian, dalam risalah tersebut, rapat Syuriyah dipimpin Rais Aam KH Miftachul Ahyar meminta agar Gus Yahya mundur dari posisi Ketua Umum PBNU karena beberapa pertimbangan.
Risalah ini kemudian diikuti dengan Surat Edaran Nomor 4785/PB.02/A.II.10.01/99/11/2025 yang menyatakan bahwa Gus Yahya kehilangan seluruh hak dan fasilitas sebagai Ketum PBNU sejak 26 November 2025 pukul 00.45 WIB.
Muktamar ke-35 tersebut dipastikan akan dilaksanakan sesuai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART), memiliki legitimasi yang sah, serta tidak menyisakan keraguan.
Waktu pelaksanaan, dilaporkan Kompas, berpeluang dimajukan dari jadwal semula pada Desember 2026. Terkait waktu dan tempat penyelenggaraan, Pengurus Tanfidziyah PBNU Amin Said Husni menyampaikan hal itu akan dimusyawarahkan lebih lanjut.
Penanggung jawab penyelenggaraan Muktamar ke-35 ditetapkan pada Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Gus Yahya, kesepakatan islah tercapai dalam rapat konsultasi Syuriyah PBNU bersama para mustasyar yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Kamis (25/12).
Forum tersebut dihadiri jajaran Syuriyah PBNU, para mustasyar, serta kiai sepuh.
Selain Gus Yahya dan Miftachul Akhyar, hadir pula Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin dan KH Nur Huda Jazuli, Rais Syuriyah PBNU KH Anwar Mansyur, Sekretaris Jenderal PBNU Amin Said Husni, serta Katib Aam PBNU Mohammad Nuh.

MUSYAWARAH MUFAKAT, MUKTAMAR KE-35 TANPA EMBEL-EMBEL
Amin Said Husni menjelaskan rapat konsultasi secara khusus menghadirkan para mustasyar dan kiai sepuh untuk memberi arahan atas dinamika yang berkembang di tubuh organisasi. Forum berlangsung sekitar tiga jam, dimulai dengan penjelasan Rais Aam PBNU, dilanjutkan pemaparan Ketua Umum PBNU, sebelum para mustasyar dan kiai sepuh menyampaikan pandangan.
Rapat yang berlangsung pukul 12.00 hingga 15.00 WIB tersebut menghasilkan keputusan melalui musyawarah mufakat tanpa mekanisme voting. Seluruh pihak yang hadir menerima dan menyepakati hasil rapat.
“Rapat tadi sampai pada satu kesepakatan bahwa jalan terbaik untuk mengakhiri perbedaan yang selama ini berkepanjangan adalah dengan menyelenggarakan muktamar bersama-sama,” tutur Amin.
Ia menegaskan muktamar yang akan digelar merupakan Muktamar Ke-35 NU, tanpa embel-embel muktamar luar biasa.
Terkait isu dan kontroversi yang sempat mencuat, Amin menyampaikan klarifikasi dilakukan secara menyeluruh dalam forum tersebut. Gus Yahya memberikan penjelasan komprehensif atas seluruh isu yang berkembang, sementara Rais Aam menyampaikan pertimbangan dalam rapat syuriyah yang sebelumnya berkesimpulan meminta Gus Yahya mengundurkan diri.
“Semua isu yang berkembang sudah ditabayun dan diklarifikasi. Para kiai sepuh dan mustasyar menganggap persoalan itu sudah selesai dan tidak perlu diperpanjang lagi,” lanjutnya.
Amin menekankan peran kiai sepuh dan mustasyar menjadi kunci penyelesaian dinamika internal PBNU. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, kiai sepuh diposisikan sebagai rujukan moral dan spiritual dalam pengambilan keputusan, terutama ketika organisasi menghadapi perbedaan pendapat.
“Di atas kiai ada kiai sepuh, dan di atas kiai sepuh ada kiai yang lebih sepuh lagi. Mustasyar adalah tempatnya para kiai sepuh itu,” ucap Amin.
PBNU berharap seluruh warga nahdliyin serta jajaran kepengurusan NU di semua tingkatan menjaga suasana tetap kondusif dan memercayakan seluruh proses organisasi pada mekanisme yang telah disepakati bersama.

